Cara Paguyuban Pasundan Lestarikan Bahasa Ibu

Paguyuban Pasundan punya cara tersendiri dalam upaya pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah. Pelestarian dilakukan mulai dari lingkungan tempat kerja hingga sekolah.

Di Kantor Paguyuban Pasundan yang berlokasi di Jalan Sumatera, Kota Bandung, misalnya, di sini percakapan sehari-hari para pegawainya menggunakan bahasa Sunda.

Tak hanya itu, kegiatan rapat juga dilakukan menggunakan bahasa Sunda. Pengecualian menggunakan bahasa Indonesia biasanya hanya dilakukan dalam agenda tertentu, terutama jika dihadiri banyak orang dengan berbagai suku.

Hal serupa juga dilakukan di sekolah yang berada di bawah Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan dan Yayasan Pendidikan Tinggi (YPT) Pasundan.

“Di bawah YPDM kita ada lebih dari 100 sekolah mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA,” ujar Kepala YPDM Pasundan T. Subarsyah.

Di lebih dari 100 sekolah itu, mata pelajaran bahasa Sunda dipelajari para siswa. Mereka diajarkan agar bisa memiliki kemampuan berbahasa Sunda sesuai undak-usuk basa alias kaidah bahasa Sunda yang baik dan benar.

Untuk guru bahasa Sunda, total ada sekitar 200 orang yang mengabdi. Itu berarti rata-rata satu sekolah memiliki dua guru bahasa Sunda.

“Jumlah siswa di kita dari seluruh tingkatan lebih dari 40 ribu orang,” ucap Subarsyah.

Prinsipnya, di sekolah Pasundan, para siswa juga dicetak jadi pribadi yang bangga akan bahasa daerahnya. Sehingga, mereka akan berusaha turut melestarikan bahasa Sunda dan menggunakannya dalam keseharian.

“Hampir tidak ada siswa Pasundan yang tidak berani ngomong bahasa Sunda,” ujar Subarsyah.

Sekolah di bawah YPDM Pasundan sendiri tersebar di berbagai wilayah di Jawa Barat dan Banten. Tapi, semuanya memiliki dan menjalankan filosofis budaya Sunda yang kental.

Tak hanya mempelajari dan melestarikan bahasa, sekolah dan kampus Pasundan juga fokus pada pelestarian budaya, kesenian, hingga alat musik tradisional khas Sunda.

Hal lain yang menarik dari Paguyuban Pasundan dalam pelestarian bahasa Sunda adalah surat keputusan (SK) yang dibuat berbahasakan Sunda. Bahkan, untuk skripsi dan tesis, ada bagian di mana yang mengerjakannya harus menuliskannya dalam bahasa Sunda.